Janaloka; Seruni, Manju, Daru, Tualang, dan Braga.
Kini sebait sunyi menemukan gema—rajutan mahkota dari bunga berada dalam genggaman si tuan; terayun pelan seiring langkahnya bersama si gadis. Hendak berjumpa dengan si "teman" milik Rhea, keduanya digiring angin yang membelai rumput. Si gadis terdahulu jejaknya di depan, melompat-lompat kecil mengikuti musik yang terkurung dalam tempurung kepala. Berlagu lirih seraya berbisik kepada bunga liar yang kian di samping kanannya. "Hari ini ada seorang Tuan," lirihnya lalu tertawa kecil.
"Namanya Seruni," lanjut Rhea sambil menunjuk deretan bunga warna-warni tepat di sampingnya. "Dia senang berdansa dengan angin. Dia teramat lembut memberi sapa kepada siapa saja yang datang bertamu."
Utraksa membungkuk, disusul belaian tangannya yang mendarat pada tangkai Seruni. Tak bergumam, si tuan berbincang dalam sunyi. Rhea tersenyum, lekas melanjutkan kiprah gaun putihnya yang ikut bergoyang seirama dengan senandung semesta. Kemudian si gadis terkesiap setelah seekor kupu-kupu hinggap pada bahu kirinya. "Oh? Tualang!" Tersorot jelita paras Rhea dengan kulum senyum itu. "Namanya Tualang. Dia sering berkelana, tapi tetap kembali ke sabana ini. Sebab di sini rumahnya."
Dibiarkannya lembut sayap itu membelai ujung jemari si gadis. Pun mata cokelat madu kepunyaan si gadis tak sanggup dijeda oleh kepak sayap Tualang. Disusul kelepak ringan Tualang perlahan menjauh—berdansa sejenak bersama udara—sebelum akhirnya berlabuh di atas surai si tuan. Rhea tertawa. "Dia memberi salam kepadamu."
Utraksa melirik ke atas; hendak melihat makhluk kecil yang bertengger di atas kepala. Lantas labium si tuan menciptakan lengkung tipis—hampir tak terlihat oleh lawan bicara.
"Mau duduk sebentar?" tanya Rhea, "di sana," lanjutnya seraya menunjuk pohon di sudut sabana.
Lekas diberi persetujuan oleh si tuan. "Boleh." Dua raga dalam satu bingkai takdir berjalan bersama lantas duduk sejajar di bawah pohon. Irama yang bermula dari gesekan daun dan angin menjadi musik penyambutan, ditambah lagu dari kicau burung yang singgah di dahan-dahan. "Namanya Daru." Rhea menunjuk pohon di belakangnya. "Dan dia, namanya Manju," imbuhnya menunjuk burung-burung di atas ranting.
Utraksa sontak terkekeh. "Kamu sungguh menamakan semua makhluk di sabana ini?" herannya.
"Daru dan Manju sering berkolaborasi untuk menciptakan musik alam. Dengar, Tuan. Bukankah alunan mereka lebih indah dari bising kota?"
Si tuan melempar peluru tatap pada manik mata cokelat madu di sampingnya. "Lebih tepatnya musik dalam tempurungmu."
"Musik itu bukan milikku saja, tapi milik siapa saja yang sudi mendengarnya dengan hati, Tuan." Lagi-lagi semesta menitipkan lengkung rembulan pada paras si gadis. Rhea memberi dunianya. "Kamu boleh melepas alas kakimu saat di sini," kata si gadis melirik sepatu putih milik Utraksa.
"Haruskah? Seperti yang kamu lakukan sekarang?" herannya lagi seraya menunjuk kaki si gadis dengan dagu. "Kenapa harus begitu? Aneh."
"Biar bumi tahu kalau hari ini kamu hidup," singkat Rhea.
"Kamu hidup untuk hari ini saja?"
"Sedang kamu hidup untuk terus mengkhawatirkan masa depan?"
Utraksa tertegun. Panah tanya oleh si gadis tepat menusuk sudut hati. "Hm?" Si tuan memancing tanya.
"Kamu bisa hidup di hari ini dengan menikmati hal-hal kecil yang membersamaimu, Tuan." Gadis pemilik mata cokelat madu di sana mengulur senyum. "Bukankah seharusnya begitu?"
Si tuan menunduk. Renung-renung dalam putaran kepala sejenak merebut waktu. Lekas perlahan melepas sepatu putih; membiarkan bisikan rumput-rumput kecil yang menelusup di sela jemari kaki. Sedang lawan bicara tersenyum kecil. "Seperti mencicipi kebebasan pertama kali, bukan?"
"Mungkin."
"Kalau begitu, selamat datang di hari ini, Tuan. Nikmati saja selagi bisa."
Nyatanya Utraksa benar-benar hidup. Sekian durasi memberi sekutu dengan cemas yang tak berkesudahan. Deru waktu melelahkan, Utraksa kewalahan. Lantas si tuan menoleh; mengamati lawan bicara yang menengadah ke langit. "Mau ke pusat kota bersamaku?" tanyanya usai menjenguk tatap kepada lentik bulu mata si gadis yang terpejam sebelumnya.
"Lebih tepatnya?"
"Braga."
Pustaka kenangan hendak menitipkan jejak baru di antara riuh lampu kota dan aroma kopi yang menguar dari sudut-sudut jalan. Antara derap langkah para raga atau kayuhan sepeda si tuan yang direkam tembok-tembok tua— lekas membaur dengan nyawa mereka—atau sekadar ketenangan untuk hidup di hari ini.
to be continued~



Komentar
Posting Komentar