Janaloka; Senja Lahir dari Pamit
Braga diciptakan saat semesta sedang meramu ruang nostalgia. Dititipkannya sebagian kisah para perantau di sudut-sudut jalan, membisik sejarah pada dinding tua, pun merekam jejak manusia-manusia yang datang dan pergi. Kepada Braga, Utraksa beserta Rhea menyelipkan kisah dalam tiap retakan tembok tua.
Terlampau bumi hendak menjemput senja, keduanya bersepeda di bawah langit sore. Utraksa mengayuh sepeda pelan sambil menangguhkan kenangan pada setiap durasi. Sedang Rhea duduk di belakangnya. Terayun-ayun di udara kaki si gadis pemilik mata cokelat madu itu dengan jemari bertumpu ringan di bahu si tuan sebagai pegangan.
"Itu kedai langgananku!" teriak Utraksa sambil menunjuk kafe kecil di kiri jalan, "kalau sedang stres berat, di sana tempat pelarianku!" imbuhnya disusul suara tawa.
Rhea tersentak gurau—deretan gigi putihnya tersorot gembira. Senandung Braga tercipta dalam tempurung kepala, setiap putaran roda sepeda Utraksa mengikuti irama. Pun dengan wangi gula karamel yang bercampur aroma roti panggang turut serta jua. Harum arabika menyentuh udara, lekas menghias semerbak senja di sepanjang jalan.
Si gadis menengok kanan kiri. Terlampau sangat lama tak menyapa pusat kota, ternyata menyenangkan juga. Bersama gaun putih selutut yang terpoles tanah sabana, Rhea merangkai sejarah. "Hiduplah untuk hari ini!" teriak si gadis yang tersapu udara—sambil melongok si tuan yang mengendara.
Sekilas Utraksa menoleh lalu mengangguk. "Baiklah!"
Tak lama dari bincang itu, si tuan berhenti tepat di depan toko kecil. "Tunggu sebentar. Jangan ke mana-mana," titahnya kepada si gadis yang merespons dengan tatapan belaka. Sigap si tuan lekas berlari masuk ke dalam toko, sedang si gadis menatap langit sore dalam bungkusan Kota Bandung. Sampai-sampai terlalu lekat dirinya hanyut dalam durasi yang kemudian terdengar suara lonceng kecil di ambang pintu toko—menandakan si tuan kembali.
"Pakai ini," perintahnya seraya berjongkok memberi si gadis sepasang sandal selop warna merah muda. "Gratis untukmu."
Rhea terkekeh geli. "Terima kasih."
Lantas dua pasang mata bertemu. Pada satu titik hening dalam riuhnya para jejak manusia di pusat kota, keduanya bersua tatap. Sunyi, tapi indah. Semesta diwakilkan pada setiap iris yang menumpang pada kelopak. Disusul tawa kecil yang mengudara. "Mau jalan kaki saja?" tawar si tuan.
Dalam rangka menjalin kisah. Mereka berjalan kaki melewati trotoar—sambil si tuan menuntun sepeda. Dibersamai bincang kecil dalam setiap langkah. "Rumahmu?" tanya Utraksa.
"Dekat sabana."
Si tuan mengangguk, canggung jadinya.
"Itu ...," Rhea menunjuk arloji si tuan, "jangan terlalu keras dengan diri sendiri, ya?"
Utraksa menunduk. Bisu jadi senjata, sedang si gadis melambatkan jejak. Detik tanpa henti, bahkan sejenak pun tak sudi. "Kadang, aku lupa caranya pelan-pelan." Si tuan menoleh lekas menarik napas panjang.
"Tuan, purnama pernah menjadi sabit." Semakin menjinakkan waktu, si gadis hendak membelai ambisi-ambisi Utraksa yang buas menguasai raga. "Bunga mekar pun pernah jadi kuncup."
"Lalu?"
"Setiap langkah bisa jadi jeda," balas si gadis seraya rambut yang digerainya tergoda angin. Sedang suara pejalan kaki lain berbaur dengan samar aroma kayu tua. Lagi-lagi Rhea melukis sabit dalam parasnya. "Berhenti sejenak bukan berarti kehilangan arah, Tuan."
Terseret menuju tatap candu itu, Utraksa tenggelam di antara kedipan mata. Si tuan mengangguk setelah sekian detik membeku. "Aku antar pulang. Besok, aku ke sabana lagi." Sambil menciptakan lengkung rembulan pula. "Menemuimu," pungkasnya.
Braga merekam bincang mereka—bersatu bersama denting arloji Utraksa yang pernah jadi penguasa si tuan. Melewati musik kota yang dimainkan seniman jalanan di sudut trotoar pula, keduanya menikmatinya. Senja lahir dari pamit; besok, sejarah akan lebih indah berdansa bersama waktu.
the end.


Komentar
Posting Komentar