Janaloka; Sebelah Utara Bandung
Pusat Kota Bandung terbungkus dalam riuh yang tak pernah benar-benar diam. Si tuan bernama Utraksa mengambil jeda tepat di ujung jembatan penyeberangan Asia-Afrika—setelah kayuh demi kayuh sepedanya terlampau menyapa Bumi Pasundan. Kamera yang jadi kalung di leher terayun sejenak usai dirinya meneguk air mineral. Surai hitam si tuan dirias keringat, napas dihias sengal, serta mata sipitnya dirayu debu kota.
Manusia berpacu waktu, pun si tuan berlomba dengan detik. Utraksa memilih lajur balik; berbelok menuju Utara Bandung. Menghindar dari aroma aspal yang hangat, lekas mencari kesunyian yang tersembunyi. Lantas roda sepedanya kembali menggilas bayang-bayang ramai yang jadi markas kota. Bising mulai teduh, riuh klakson melebur dalam nyanyian angin. Gedung-gedung terganti pepohonan di sepanjang jalan.
Setiap kayuh memanggilnya 'tuk semakin dekat. Sampai pada jalanan menanjak, si tuan tak lekas berhenti. Cahaya matahari menari di sela ranting, sesak para kerikil memadati jalan setapak di sana. Sengal si tuan mulai tertata, langkah melambat, sampai kayuhan terakhir telah singgah pada ranah hening itu.
Utraksa beranjak dari sepeda, lekas menjejak hamparan hijau sejauh mata memandang. "Sudut Utara Bandung menyimpan surga," katanya sembari mendongak. Langit biru membentang tanpa batas seakan memeluk tanah sabana yang berhiaskan bunga-bunga liar. Dirasa sunyi hampir sempurna, Utraksa berbaring di atas rumput.
Sejenak memejam nan menikmati rayuan angin yang menyenggol surainya, dahi si tuan berkerut—tepatnya selepas tawa kecil datang dari balik pohon di sudut sabana.
"Ayo kejar aku!" teriak seorang gadis disusul tawa gembira.
Si tuan membingkai pandang gadis yang berlari-lari dari kejauhan. Gaun putih selutut yang menghias raga si gadis berkibar seiring langkah-langkah kecil tanpa alas kaki. Rambut panjang bergelombang miliknya terlampau anggun berdansa dengan desir angin. Di belakangnya terlihat beberapa kupu-kupu yang mengekor berlarian. Tangan mungil si gadis menggenggam setangkai bunga liar, sedang tawanya mengudara; menyusup di setiap sudut sabana.
Lensa mengintai senyum yang terselip di paras si gadis; lengkung sabit indah yang kini abadi dalam pustaka kameranya. Utraksa mengambil gambar—tanpa suara. Suara gesekan kaki dengan rerumputan semakin dekat. Utraksa menurunkan kamera, manik matanya kian tak bersembunyi di balik lensa.
"Halo, Tuan." Si gadis tersenyum, lalu melambai ringan dengan setengah membungkuk—menghadap si tuan.
Utraksa meneguk liur. "Kamu siapa?"
"Aku teman para bunga liar di sini."
Keduanya bertembung muka. Utraksa menyusuri paras kepunyaan si gadis, sampai singgah tatap di mata cokelat madu itu. "Teman bunga liar?" tanya si tuan tak percaya.
"Benar, kupu-kupu yang tadi berlarian bersamaku juga temanku." Si gadis meringis gembira. "Namaku Rhea." Sampai pada detik mereka duduk sejajar di tengah sabana di sana. Rhea membuka cakap, "Selamat datang di ranahku. Tadi kamu mengambil gambar, ya? Aku titip senyumku dalam kotak cahayamu itu, ya?"
Si tuan tak berhenti menyisir manik cokelat madu itu. "Kotak cahaya?" tanyanya dengan kerutan di dahi.
"Kamu menyimpan cahaya di dalamnya bukan? Menangkap waktu yang tak bisa diulang."
Kelopak mata si tuan menyipit lalu menggenggam kamera lebih erat. Getar nada dering kemudian memecah tatapan Utraksa beberapa detik lalu. Bukan berasal dari telepon, melainkan dering pengingat 'tuk si tuan minum air putih. Lantas Rhea terkekeh—sesaat setelah membaca dering di layar telepon genggam itu.
Utraksa kembali mengambil botol air mineral yang terakhir disentuhnya di jalan Asia-Afrika. Tepatnya di bagian samping ransel denim itu. "Kamu tidak membawa air?" tanyanya lalu disusul geleng tipis oleh si gadis. "Kamu di sini sendirian?"
Rhea mengangguk. "Baru kali ini ada tamu yang datang."
"Kenapa?"
Si gadis menghela napas. "Kamu sendiri, kenapa bisa sampai sini?"
"Oh, itu. Ada tugas fotografi yang menuntutku. Dan juga, pusat kota terlalu bising." Utraksa merebah kembali di atas rumput hijau.
Rhea membelai ujung gaunnya. "Aku berkunjung ke sabana setiap hari. Ada banyak temanku di sini." Si gadis tertawa kecil. "Mau kuajak mengunjungi para temanku?" tanyanya menoleh si tuan di sampingnya.
Alih-alih memberi jawab, Utraksa malah menilik arloji di tangan. "Sepuluh menit, aku harus istirahat."
Rhea terkekeh kembali. "Kamu tidak lelah terus berpacu dengan waktu?"
"Jalan untuk sampai ke sabana ini sangat melelahkan, aku harus memberi jeda untuk bergerak kembali." Si tuan tak gentar meneguhkan ambisi. "Supaya tak tertinggal," imbuhnya.
Si gadis menggeleng heran. Lekas memetik bunga liar kecil yang tumbuh di hadapan. Sembari menunggu si tuan yang sunyi bersama napasnya, Rhea merangkai mahkota. Jemarinya lincah menenun batang demi batang.
"Kamu suka merangkai mahkota dari bunga?" Si tuan tiba-tiba melempar tanya setelah melirik dari ekor mata.
Lantas lawan bicara mengangkat bahu. "Tidak ada aturan yang melarangku, 'kan?"
Utraksa menyeringai. "Kamu ini ... sepertinya sangat bebas."
Rhea menoleh, lalu menghampiri rungu si tuan. "Dan kamu ... sepertinya sangat terikat," bisiknya setelah meletakkan mahkota bunga dalam genggaman si tuan.
to be continued ~




Komentar
Posting Komentar