Meja Nomor Tujuh, Baris Ke-Tiga

Maret memelukmu. 

Selamat datang di babak dua puluh tiga. Kali ini di meja nomor tujuh, tepat baris ketiga dari jejeran meja kedai pinggir pantai itu. Debur ombak menjilat karang, hadirnya membawa sisa-sisa tahun lalu yang tak lagi menempel di kulit. Manik matamu tersorot senja, lekas menatap kepul asap kopi di atas meja; antara ampas pahit di dasar cangkir dan ampas manis di bibirmu. 

Babak dua puluh tiga terlampau sebuah angka. Layaknya ombak yang mencium pasir, langkahmu akan mengubah sesuatu meski sedikit. Layaknya pintu yang baru terbuka; kamu dijamu racikan waktu penghangat jiwa, sedang secawan kisah melambai dari kejauhan. Kamu berjalan sembari menyeduh pengalaman, lantas meneguk takdir yang perlahan terungkap. 

Entah laut dan secangkir kopi di depanmu atau jamuan di sepanjang ruang waktu. Entah kenangan yang kamu titipkan di endapan kopi atau langkah kecil yang tertinggal di jejak ombak. Setiap peristiwa membawa ampas, antara debar yang kamu tunggu atau kenangan yang kamu cari. 

Komentar

Postingan Populer