Kedai Kopi dan Februari

 


Februari menyumbang narasi yang terletak di antara secangkir espresso dan latte. Meja nomor dua puluh; kedai kopi sudut kota. Lantas espresso tumpah, sesaat setelah mengalir melewati lidahmu. Keping cangkir putih berserakan di lantai. Sudah pahit, sengsara pula. Sepadan dengan rasa takutmu membalas tatap karyawan kedai, pun bisik tajam dari selingkungmu.

Malam tadi, tanduk di atas kepalamu menyalang murka. Sedang rotan tajam yang memeluk raga merayu hingga terjerumus dalam duka. Tentang cemas-cemas akan hari esok. Seram katamu. Tentang kerak bumi yang merekam setiap langkah, raga yang dihajar waktu, dan debar kencang di jantungmu. Sampah serapah dari labiummu hanya terkurung dalam imajinasi, memuakkan.  

Kemudian mendongak; gagah membantah para pandang dan bisik tajam itu. Sabit dalam parasmu melengkung sempurna. "Maaf, saya akan menggantinya." Berdamai dengan lukamu ternyata sulit, persis goresan keping cangkir yang menyisakan darah di sela jarimu. 

Kemudian duduk kembali, latte jadi penutup tragedi. Manisnya merayumu. Katanya tetap tegak berdiri di tempat yang tidak kamu sukai juga usaha untuk bertahan hidup.

Komentar

Postingan Populer